Ada, Keberadaan, Mengada [multiklatif]
Tidak jarang tiap kali bercermin yang terlintas di pikiran saya adalah jargon keberadaan, eksistensi, existense. Itu saya pikirkan sampai tertawa. Dan saya baru ingat saya harus lekas menuliskannya, hingga teks ini berada dalam weblog.
Maksud saya mengapa kita menjadi berada dan eksis dalam dunia fana dengan kebenaran yang multiklatif. multiklatif?
Halo, Bisa Saya Bicara dengan 5G?
Berbagai inovasi di bidang teknologi ponsel, komunikasi informasi serta elektronika kontemporer bisa dijadikan teropong untuk mengintip masa depan ponsel. Karena struktur ponsel saat ini pada dasarnya tersusun berkat konvergensi teknologi-teknologi lain yang telah ada sebelumnya. Selain itu kecenderungan konteks kultural di bidang ekonomi, politik dan budaya yang sedang terjadi bisa menjadi acuan memprediksi kemunculannya.
Read the rest of this entry »
Hiperrealitas Media
Kita paham bahwa sekarang era berada pada tingkat reproduksi (fashion, media, publisitas, informasi, dan jaringan komunikasi), pada tingkat yang secara serampangan disebut Marx dengan sektor kapital yang tidak esensial… artinya dalam ruang simulakra, kode, proses kapital global ditemukan. (Baudrillard, 1983:99).
Kita Ini Seperti Cangkir Kosong
Seorang profesor kenamaan di sebuah kota di Tiongkok berkunjung ke rumah seorang guru Zen di sebuah desa, di daerah pegunungan guna menuntut ilmu Zen.
Tiba di rumah guru Zen, sang profesor disuguhkan segelas teh. Guru Zen menuangkan teh dari poci ke dalam cangkir terus-menerus, hingga tumpah ke luar. “Sudah… sudah, cukup….” kata profesor.
“kau seperti cangkir ini. Bagaimana aku bisa mengajarkan Zen ini kepadamu, kalau kau tidak mengosongkan pikiranmu dulu?”
Read the rest of this entry »
Menantikan Kejayaan Internet yang Sesungguhnya
Bagi beberapa pihak, keputusan raja media pemilik News Corporation, Rupert Murdoch tahun lalu membeli Myspace sangatlah mencengangkan. Pasalnya, pada era booming internet di tahun 1994 hingga awal 2000, ia pernah bangkrut milyaran dolar gara-gara berbisnis di media digital seperti ini. Insting Murdoch waktu itu meleset. Belum sempat balik modal, bisnis ini ambruk secara global, hanya karena masyarakat dunia belum bisa menerima media baru ini. Hanya beberapa yang sanggup bertahan, seperti Yahoo!, Google, Amazon, E-bay dalam lain sebagainya. Di tanah air kita mengenal DetikCom dan Kompas Cyber Media (KCM).
Kapitalisme, Ems!
Ems, I used to be like you, dear….
Gaya berpikir Ems bisa saya pahami, karena saya juga pernah seperti itu. Ini mencerminkan buku yang Ems baca agak kekiri-kirian. Saya dulu suka baca buku-buku seperti itu, bahkan sampai sekarang saya masih memburu buku-buku seperti itu. Masalahnya jangan sampai terjebak ideologi yang tersurat dalam buku-buku itu. Kapitalisme tidak seburuk yang Ems kira,
Objektifisme dan Subjektifisme Lacerta
Kalau Lacerta paham tentang konsep objektifisme, maka Lacerta tidak akan menggunakan istilah tersebut untuk membuat penilaian terhadap sesuatu atau ketika menafsirkan sebuah fenomena. Tidak ada yang objektif di dunia ini, karena manusia terikat dengan kepentingan pribadi, kelompok dan negara. Konsep objektifisme adalah imparsialitas dan seimbang. Dan jurnalisme sudah membuang jauh-jauh konsep ini. Jadi, tetap saja ada keberpihakan seseorang terhadap seseorang atau kelompok.
Anak Kebudayaan Virtual
Sejauh yang aku tahu, tidak ada anak virtual yang bernama Avaxia, apalagi berkecimpung di dunia bisnis. Suami Ginka sepertinya seorang saudagar ya?. Melihat wilayah bisnisnya di Timur Tengah, sepertinya ia pengusaha minyak bumi dan gas. He… he… he… ternyata bukan anak virtual, ya?
Membaca Teks Gie
Man Best Known by His Writing. Saya tidak ingat di buku apa saya pernah membaca kalimat ini. Saya tidak tahu juga siapa yang menulisnya. Namun, maknanya selalu bergejolak di pikiran saya. Ia sangat kontekstual! Dan teks-teks tulisan Soe Hok Gie (selanjutnya saya sebut Gie saja) membuktikan itu.
