Hermeneutik
Salah satu gejala yang membedakan manusia adalah kemampuan berbahasa. Manusia adalah makhluk bahasa yang senantiasa melakukan pemaknaan dan penafsiran terhadap segala sesuatu yang dihadapinya guna mendapatkan pemahaman penuh. Bahasa yang tercermin dalam kata-kata, kalimat dan gagasan adalah representasi atau objektifikasi kita akan kenyataan.
Read the rest of this entry »
Hiperrealitas Media
Kita paham bahwa sekarang era berada pada tingkat reproduksi (fashion, media, publisitas, informasi, dan jaringan komunikasi), pada tingkat yang secara serampangan disebut Marx dengan sektor kapital yang tidak esensial… artinya dalam ruang simulakra, kode, proses kapital global ditemukan. (Baudrillard, 1983:99).
Kita Ini Seperti Cangkir Kosong
Seorang profesor kenamaan di sebuah kota di Tiongkok berkunjung ke rumah seorang guru Zen di sebuah desa, di daerah pegunungan guna menuntut ilmu Zen.
Tiba di rumah guru Zen, sang profesor disuguhkan segelas teh. Guru Zen menuangkan teh dari poci ke dalam cangkir terus-menerus, hingga tumpah ke luar. “Sudah… sudah, cukup….” kata profesor.
“kau seperti cangkir ini. Bagaimana aku bisa mengajarkan Zen ini kepadamu, kalau kau tidak mengosongkan pikiranmu dulu?”
Read the rest of this entry »
Anak Kebudayaan Virtual
Sejauh yang aku tahu, tidak ada anak virtual yang bernama Avaxia, apalagi berkecimpung di dunia bisnis. Suami Ginka sepertinya seorang saudagar ya?. Melihat wilayah bisnisnya di Timur Tengah, sepertinya ia pengusaha minyak bumi dan gas. He… he… he… ternyata bukan anak virtual, ya?
Realitas Lembu Barus
Sampai sekarang rasa heran saya terhadap keunikan nama orang Karo tak pernah sirna. Percaya atau tidak saya pernah mendengar nama orang Karo Lembu Barus. Saya mengalami ini ketika mengikuti pelatihan kepemimpinan pramuka di Lemcadika, Medan 1999 silam. Di hari pertama sebelum memasuki kelas, anggota dari masing-masing sangga dari setiap gudep dibariskan di lapangan, instruktur utama pun bergerak memeriksa kehadiran peserta pelatihan. “Lembu Barus!” kata sang instruktur. Kontan saja para peserta yang jumlahnya sekitar 100 orang lebih itu memalingkan ke segala “matra angin” mencari tahu orang yang dimaksud seraya tertawa terbahak-bahak. Saya yakin semua yang hadir di sana sampai detik ini tidak pernah lupa, bagaimana sensasi tawa yang luar biasa itu. Seolah-olah kami mendapatkan kualitas tawa yang tidak pernah dirasakan sebelumnya.
