Simulakrum dan Sosial Kita
Simulakrum tidak bisa dihindari karena ia bagian dari sisi sosial kita. Oleh sebab itu ia bukanlah terikat dengan metanarasi sosial dan sejarah, tetapi terikat kontrak dengan lokalitas berkarakter kontekstual yang kental. Termasuk betapa sulitnya Anda mencerna tulisan ini. Tetapi tetap harus diakui bahwa simulakrum merupakan bagian hidup dari posmodernisme sebagai alat untuk menjelaskan berbagai fenomena unggul yang aneh, fesyen berberahi konsumerisme, bahkan “internet-colholic” berbalut kampanye melek teknologi. Dan sekali lagi posmodernisme dan simulakrum bermanfaat menolong Anda dalam memahami teks-teks ini.
Baik, saya ajak Anda berkenalan dengan Jameson, salah seorang pemikir era posmodern guna menjelaskan apa itu simulakrum dan peradaban masyarakat posmodern. Sebagai catatan, simulakrum diperkenalkan oleh Jean Paul Baudrillard, filsuf ternama asal Perancis.
Jameson dalam Ritzer & Goodman melukiskan secara jelas gambaran masyarakat sosial posmodern. Jelas Jameson ada 4 penanda dalam masyarakat Posmodern.
PERTAMA, masyarakat posmodern ditandai oleh kedangkalan dan kekurangdalaman. Produk kultural dipenuhi dengan citra dangkal dan tak dapat dipelajari kedalaman makna yang melandasinya. Contoh yang baik adalah lukisan Andi Warhol yang berjudul Kaleng Sup Campbell. Karya tersebut sebagai seni dilukiskan Jameson kehilangan orisinalitasnya, karena bukan objek aslinya ia eksis, tetapi hanyalah salinan dari obyek berupa fotografi yang asli. Inilah simulakrum!

Dalam konsep simulakrum objek salinan, berasal dari objek yang asli, identik karena yang asli tidak pernah ada. Simulakrum dalam teori posmodern adalah di mana orang-orang tidak bisa lagi membedakan mana yang asli dan mana yang berupa salinan. Sebab semua itu tereduksi dalam objek yang selalu diragukan, meskipun dalam sekilas pandangan, kita melihat sebagai objek yang asli. Dengan kata lain kita sesungguhnya berhadapan dengan simulakrum. Walaupun pada saat yang sama kita selalu ragu bahwa objek tersebut ternyata salinan, pada saat yang sama kita selalu ragu bahwa objek tersebut ternyata hanyalah simulasi dari objek yang sungguh-sungguh asli, ataupun tidak ada yang asli sama sekali. Hal tersebut berlangsung terus menerus, berkelanjutan hingga kita menemukan kenyataan yang mengerikan, bahwa kita hidup di dalam dunia yang hanya salinan, yang sudah kehilangan orisinalitas, ditelan oleh hal yang lebih riil daripada yang riil dari realitas, penuh distorsi, palsu dan bohong.
KEDUA, posmodern ditandai dengan kepura-puraan dan kelesuan emosi. Kalimat ini terlalu umum untuk dicerna, yang selalu memunculkan upaya multitafsir. Yang jelas dalam era posmodern 2 karakter ini mendominan dalam berbagai sisi hidup. Jameson mencontohkan lukisan Marylin Monroe karya Andy Warhol setara kelesuan emosinya yang rendah dengan Scream karya Edward Munch.



KETIGA, posmodern selalu ditandai dengan hilangnya kesejarahan. Kita tidak lagi mengetahui masa lalu. Namun, yang semua kita lakukan adalah naskah tentang masa lalu.
KEEMPAT, sebagai pengganti teknologi perakitan mobil, kita memiliki teknologi reproduktif dominan, yakni media elektronik, seperti pesawat TV dan komputer. Menurut Jameson, teknologi era posmodern melahirkan produk kultural yang sangat berbeda dibandingkan dengan teknolologi eksplosif yang dihasilkan era modern.
karna said,
May 8, 2007 at 4:32 am
kebenaran dalam budaya barat telah lama tersekulerkan, karena itu terpisahkan dari nilai-nilai transendennya yg bersifat spiritual. Manusia dinilai mampu untuk menjawab sendiri segala persoalan moral dan kebenaran. Dengan renesans, dan perayaan humanisme maka kebenaran berpusat kepada manusia sendiri.
manusia sendiri masih mencari-cari apa itu kebenaran sejati. Manusia sendiri masih ragu-ragu akan kebenarannya.
Dan karena kebenaran itu letaknya pada manusia, maka kebenaran itu menjadi relatif. Yang relatif sebenarnya adalah manusianya, dan bukan kebenarannya itu.