Objektifisme dan Subjektifisme Lacerta
Kalau Lacerta paham tentang konsep objektifisme, maka Lacerta tidak akan menggunakan istilah tersebut untuk membuat penilaian terhadap sesuatu atau ketika menafsirkan sebuah fenomena. Tidak ada yang objektif di dunia ini, karena manusia terikat dengan kepentingan pribadi, kelompok dan negara. Konsep objektifisme adalah imparsialitas dan seimbang. Dan jurnalisme sudah membuang jauh-jauh konsep ini. Jadi, tetap saja ada keberpihakan seseorang terhadap seseorang atau kelompok.
Kalau Lacerta memandang secara objektif, maka secara tidak langsung menerima/sepakat dengan pemikiran saya. Segala sesuatu itu sifatnya subjektif, karena keterikatan kita dengan nilai-nilai tertentu. Nilai-nilai inilah yang membantu kita memandang sesuatu dan tampak membedakan dengan pandangan lain.
Saya yakin Lacerta sedang bimbang dan limbung secara kejiwaan. Untuk manusia seusia Lacerta adalah wajar. Itu akan berlangsung mungkin 10 tahun mendatang. Masa remaja adalah masa di mana kita mempertanyakan segala sesuatunya tanpa nilai-nilai baku, semuanya campur aduk. Akhirnya ketika ada tanggapan dari orang lain yang cenderung kontra, maka ia membela diri, tetapi dengan makna yang sama persis seperti si penanggap. Singkat kata yang membela diri tidak paham benar apa yang ia katakan. Ini adalah hal yang wajar, tidak usah rendah diri. Lagipula ini adalah indikator semangat untuk belajar dan memahami orang lain. Tony Buzan katakan ini adalah kecerdasan sosial, karena Lacerta sangat peduli dengan rakyat Palestina.
Dan Lacerta, kalau rakyat Palestina memang menolak intervensi dan “jajahan” Israel dan Amerika, mengapa pemerintah Palestina ini menerima dan menikmati bantuan ekonomi berupa uang setiap tahun dari kedua negara itu. Seharusnya sejak awal Lacerta tahu ini. Lihat makna di balik itu semua.
Lacerta, saya dan kamu sama-sama belajar. Yang saya katakan di atas bukanlah kebenaran absolut. Semua itu adalah penafsiran semata. Artinya ada ketidakbenaran di dalamnya. Sebab saya terikat dengan ideologi saya dan nilai-nilai budaya yang saya anut.
Nah, sekarang bagaimana kalau kita berjuang bersama secara kontinu membangun karakter bangsa yang cerdas dan gampang dipengaruhi sehingga berdampak pada kerugian yang besar. Ini memang terkesan muluk-muluk dan sok cerdas. Tapi, tanyakan pada diri kita sendiri, apakah bangsa ini cukup cerdas untuk bisa menjamin saudara-saudaranya tidur pulas dengan perut terisi?
Saya yakin Lacerta bisa mewujudkan itu dengan pemikirannya sendiri dan selangkah dengan rekan-rekan lain yang sepaham. Tapi tanpa kekerasan. Kekerasan+kekerasan=dendam tak berkesudahan. Saya yakin kita tidak ingin membangun peradaban seperti itu.