Kapitalisme, Ems!

April 29, 2007 at 3:50 pm (Kontemplasi)

Ems, I used to be like you, dear….

Gaya berpikir Ems bisa saya pahami, karena saya juga pernah seperti itu. Ini mencerminkan buku yang Ems baca agak kekiri-kirian. Saya dulu suka baca buku-buku seperti itu, bahkan sampai sekarang saya masih memburu buku-buku seperti itu. Masalahnya jangan sampai terjebak ideologi yang tersurat dalam buku-buku itu. Kapitalisme tidak seburuk yang Ems kira,

Ems, ini tergantung siapa dan negara mana yang melaksanakannya. Sosialisme juga dulu diagungkan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat di sebuah negara, tetapi buktinya rezim Bolsheviks yang komunis sampai si Nikita, justru melahirkan pemimpin yang kejam dan tidak menyejahterakan rakyat. Saya tidak melihat ajaran komunisme asli di sana. Yang ada hanyalah kepentingan manusia tidak wajar membelokkan ajaran Karl Marx.

Mereka memuji kebesaran Marx dan tentu saja Engels, tetapi penafsiran yang bercampur degan kepentingan tertentu, maka lahirnya nilai ideologi sosialis-komunis yang buruk. Hal yang sama juga terjadi pada kapitalisme.

Kata kakaknya Soe Hok Gie, Arif Budiman juga Ariel Heryanto, untuk melumpuhkan negara kapitalis, maka tindakan konsumerisme harus dihentikan. Karena gerak kapitalis tuntas dihentikan hanya dengan menghentikan keinginan berbelanja berlebihan. Ingat
kata kuncinya, jangan berlebihan. Artinya bukan berarti salah yang sangar besar, kalo kita membeli produk-produk buatan Amerika, kalau memang itu bisa memenuhi kebutuhan esensial kita, bukan sebagai gaya hidup kenapa tidak? Kalo yang udah menjadi gaya hidup, itu baru namanya berlebihan. Yang makan bukan untuk mengatasi rasa lapar, tapi kebutuhan gengsi dan nilai-nilai sosial dalam hidupnya.

Alkisah, rekan saya juga aktivis mahasiswa saya kenal sangat vokal menentan kapitalisme dalam berbagai even demonstrasi. Saya salut sama dia, karena pemikirannya filosofis, bahasanya mencerminkan buku yang ia baca sangat berkualitas, sangat jauh di
atas saya. Karena dia juga saya berminat membaca buku-buku filsafat, marxisme dan lain-lain yang bersifat perlawanan.

Yang saya tahu antikapitalisme sejati enggan menggunakan barang-barang bermerek yang biasa diproduksi negara-negara besar dan maju dan digunakan masyarakat kelas atas. Contoh orang seperti ini adalah si eksistensialis, Nietzsche. Yang saya tafsirkan kawan saya itu sama seperti si Nietzsche. Tetapi suatu hari yang cerah pada tahun 2001 di fotokopi fisip saya melihat dengan jelas dengan mata kepala saya sendiri ia mengenakan tas bertuliskan Coca-Cola!

Dan parahnya lagi saya melihat foto Fidel Castro yang lagi sakit menggunakan jaket Training berlogo Adidas. Konon majalah Tempo menulis, rekan seperjuangan Che Guevara ini gemar menggunakan sepatu bermerek Nike! Walah!

Kalo cara berpikir saya sama seperti Ems, maka hingga sekarang saya akan menghabiskan gaji saya dari kantor hanya untuk membiayai ongkos angkot dari rumah ke kantor. Mengapa? Karena saya menilai sepeda motor produk Jepang: Yahama, Honda dan sebagainya itu. Adalah produk negara kapitalis yang jangan dibeli. Hei, Ems pasti tau kalo Jepang teman baiknya Amerika, kan? Saya menggunakan Suzuki Smash juga produksi Jepang bukan karena faham politik yang negara itu anut, tetapi kebutuhan esensi saya, yakni berhemat uang, demi hari tua, sekaligus modal (kalo) menikah. Bayangkan dengan 10 ribu rupiah saya sudah bisa bolak-bola rumah-kantor selama untuk 3 hari. Itu tidak bisa saya dapatkan dengan naik angkot. Ya, to….

Jangan berpikir sempit dan naif. Kalau Ems antikapitalisme sejati, gak usah pake internet dan mengetik dengan Microsoft Word. Karena yang dulu bikin protokol internet, Tim Berners Lee (seorang Amerika), saudaranya barangkali orang Yahudi. Juga bos Microsoft, si Bill Gates orang Amerika to. Saya yakin ketika Ems membuat tugas kuliah, Ems menggunakan buatan orang amerika ini. memang Ems tidak membeli langsung, tapi Ems terbantu kesulitannya dengan bantuan Bill gates. Lihat kata kuncinya: kebutuhan esensial bagi mahasiswa seperti Ems.

Nah, masalah sekarang bagaimana kita menggunakan temuan-temua orang yang dinilai Ems seperti itu untuk memberdayakan SDM bangsa Indonesia dan melawan yang hendak menipu kita. Bukankah internet bermanfaat demi kemajuan pengetahuan, pendidikan yang pada akhirnya bisa membuat rakyat tak kelaparan dan memenuhi kolong jembatan.

Ems, saya juga barangkali masih naif, karena teks-teks di atas hanyalah sekadar penafsiran seorang manusia yang lemah. Tidak ada kebenaran filosofis di balik itu, karena filsafat sendiri adalah juga penafsiran manusia dan penafsiran pandangan manusia. Jadi, jangan terima semua sebagai kebenaran sejati, termasuk (bagi saya: agama).

Jadi, kita sama-sama naif memandang persoalan (besar kemungkinan pragmatis). Bukankah dunia ini diciptakan relatif dan penuh ketidakpastian. Manusia sejak awal diciptakan diberikan otonomi untuk memberikan keputusan. “Jangan makan buah dari pohon di tengan-tengah taman ini,” titah sang Khalik. Tapi manusia melanggarnya nilai kepastian dari Tuhan itu. Maka, pelanggaran itu menghasilkan ketidakpastian dalam hidup manusia. wujudnya adalah variasi penafsiran atas berbagai persoalan. Maka tidak ada yang benar selama akhir dunia belum tiba, ketika Yesus (nabi Isa) menjawab untuk nilai kegenapan dan kebenaran sejati.

Jadi, jangan percaya sepenuhnya, terhadap apa yang sedang kaupikirkan, kau utarakan termasuk yang kau dengar dan kaubaca, apalagai yang ditulis Vinsen.

Maka…. Berikan aku 10 pemuda, maka akan kugetarkan dunia (Soekarno). Barangkali maksudnya untuk membentuk kesebelasan sepak bola (ditambah Soekarno sebagai pelatih) yang bisa bertanding di piala dunia dan membuat Indonesia terkenal.

Do not trust any people until u read his books (anonim)

Agama saya adalah Cinta (mungkin Kahlil Gibran)

Post a Comment