Membaca Teks Gie
Man Best Known by His Writing. Saya tidak ingat di buku apa saya pernah membaca kalimat ini. Saya tidak tahu juga siapa yang menulisnya. Namun, maknanya selalu bergejolak di pikiran saya. Ia sangat kontekstual! Dan teks-teks tulisan Soe Hok Gie (selanjutnya saya sebut Gie saja) membuktikan itu.
Lewat buku Zaman Peralihan, Gie kesohor sebagai sosok pemuda yang pemberani, liberal, radikal, intelek dan idealis. Hal yang bisa diteladani orang muda generasi Indonesia saat ini. Namun, barangkali sulit. Tampaknya terlalu dini jika saya katakan Indonesia sedang “demam” Gie. Namun yang pasti film dan sosok Gie mulai ramai dibicarakan. Pemikirannya tentang perlawanan bisa saya pastikan mulai mewarnai kosa kata lisan orang muda Indonesia. Betapa tidak. Sejak sebelum filmnya dirilis, ketika masih dalam tahap produksi, media massa sudah mengelu-elukannya termasuk diterbitkan buku-buku mengenainya. KOMPAS sendiri menempatkan citra Gie dalam kampanye perubahannya, dengan berdasarkan pemikiran Gie.
Bagi saya, bukan tidak mungkin Gie menjadi ikon baru generasi muda Indonesia. Mudah-mudahan saja. Siapa sosok Gie mulai dibuka kepada publik. Masyarakatpun mengetahui kalau sosok Gie memang tidak biasa. Selaku aktivis mahasiswa di Universitas Indonesia di tahun 60-an, Gie digambarkan sebagai sosok yang idealis, nonkompromistis, tegas, dan radikal dalam bersikap dan beraksi. Gie adalah pentolan para aktivis mahasiswa yang berhasil menjatuhkan rezim Soekarno di tahun 1966. Maka, Gie adalah bagian dari sejarah yang amat penting maknanya.
Pembicaraan dalam konteks sejarah ke-Indonesia-an kita, tampaknya teks pemikiran Gie adalah abadi, terutama mengenai masalah kesadaran untuk selalu berevolusi. Hal ini dibangun lewat kesadaran berpolitik dan ketidakengganan mengkritik kebodohan pemerintah yang bisa mensengsarakan rakyat. Sosok Gie seperti itu dikenal lewat catatan dalam buku hariannya, serta dari banyak artikelnya yang dimuat di koran-koran nasional ketika ia masih menjadi mahasiswa. Dari buku Zaman Peralihan yang merupakan kumpulan tulisan Gie ini, tercatat ada 36 artikel beliau yang dimuat di beberapa koran antara tahun 1967-1970. Diantaranya adalah Kompas, Suara Pembaruan, Indonesia Raya dan Mahasiswa Indonesia.
Dalam buku yang disunting oleh Stanley dan Aris Santoso ini, jelas tergambarkan betapa aktifnya Gie menuangkan gagasan berbangsa dan bernegara, mengkritik birokrat, mahasiswa dan dosen, berbagai kekesalan terhadap ideologi ke dalam sebuah tulisan yang segar, tegas, keras dan memukau. Segar, karena gagasannya orisinal. Tegas dan keras karena berani mengkritik langsung dengan menyebutkan nama karena sikap kemunafikannya. Memukau karena memberi inspirasi dan gagasan bagi yang membaca.
Pengkhianat yang hipokrit satu sikap Gie yang paling yang menonjol adalah ketidaksenangannya terhadap kemunafikan. Ini terbukti ketika rekan-rekan seperjuangannya saat menumbangkan rezim Soekarno ikut masuk sebagai anggota parlemen. Hal yang menurut Gie tidak boleh dilakukan. Namun demikian, Gie memahami kondisi demikian dengan tetap menaruh hormat kepada mereka, sebab menurutnya mereka bekerja dalam situasi yang sulit dan berusaha untuk mencapai hasil-hasil yang maksimal. Gie menulis ini dalam Pelacuran Intelektual (hal 62). Hal ini juga pernah terjadi pasca demontrasi masif menumbangkan rezim Orde Baru di tahun 1998, tidak sedikit aktivis mahasiswa yang ikut menjadi anggota parlemen. Hal yang dikritik habis-habisan oleh rekan-rekannya. Inilah kemunafikan dan sikap pengkhianat.
Mahasiswa di masa depan seorang mahasiswa Antropologi mengharapkan akan melakukan field work di daerah terbelakang Irian Barat, untuk menolong perkembangan sosial daerah itu. Seorang mahasiswa ilmu alam berharap akan bekerja dan mengadakan riset dalam bidang tenaga atom untuk perkembangan-perkembangan teknik. Dan mahasiswa-mahasiswa fakultas hukum yang mengharap untuk menegakkan hukum di Indonesia. Tetapi dalam beberapa tahun mereka terpaksa membunuh idealismenya yang dahulu. Karena tidak ada fasilitas belajar, tidak ada laboratorium, tidak ada beasiswa yang membuat mereka jadi spesialis. Mahasiswa hukum akhirnya belajar, bahwa ada pula hukum-hukum yang tak tertulis. Mereka perlu koneksi dengan orang-orang penting, dengan tentara, dengan polisi yang bisa menanggulangi hukum. (Soe Hok Gie, hal. 120-121) Lewat teks ini Gie, mencoba memetakan kondisi generasi muda setelah kemerdekaan, apa yang mereka lakukan dan cara pandang mereka hidup di sebuah negara yang merdeka.
Tesis Gie bahwa kondisi generasi muda sekarang akan menentukan seperti apa pemimpin bangsa yang akan mereka pilih. Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa. Menjadi pemuda-pemudi yang normal, seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia. (Gie, hal. 142)
Saya bermimpi bahwa di masa depan, universitas-universitas akan mendapatkan kebebasan mimbarnya kembali. Dan mahasiswa-mahasiswa merasa bahwa kebebasan mimbar adalah suatu yang fundamental bagi hidup mereka dalam kampus. (Gie, hal. 149)
Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormanas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa macam tadi. (Gie, hal. 150)
Hal ini juga yang terjadi di kalangan mahasiswa Indonesia dewasa ini dan lebih parah lagi. Banyak oknum mahasiswa lebih banyak bersekutu dengan narkotika dan terjangkit penyakit konsumerisme (belanja berlebihan bukan berdasarkan kebutuhan yang esensial dan demi gengsi), hiburan yang berlebihan dan sebagainya. Bagi mereka ini, buku-buku soal kebangsaan dan kerakyatan tidak penting, jika dibandingkan komik-komik Jepang. Belum lagi kebiasaan bolos dan menyontek sulit sirna. Bahkan di kampus saya dulu dinding-dinding kelas efektif dijadikan prasasti. Maksud mahasiswa menulis materi kuliah di dinding untuk keperluan menyontek di kala ujian. Bukan generasi seperti ini yang diharapkan Gie.
Asal tahu saja Gie juga seorang kutu buku. Sejak duduk di sekolah menengah pertama, ia sudah banyak melahap buku-buku bertema berat, seperti filsafat dan sejarah Amerika. Kebanyakan berbahasa Inggris. Selain buku, kegemarannya berdiskusi dengan berbagai lapisan masyarakat, membuat Kedutaan Besar Amerika Serikat mengundang Gie berbicara di beberapa perguruan tinggi di Negeri Paman Sam itu. Ketimpangan seperti ini kerap terjadi melanda negeri ini hingga sekarag. Penyebabnya tidak lain pejabat rakus yang mencuri orang rakyat.
Korupsi yang menjijikkan ini, memaksa pemerintahan eksekutif memotong anggaran pendidikan. Ini membuat biaya sekolah menjadi mahal. Sampai-sampai ada yang nekat bunuh diri karena tidak sanggup menanggung malu tidak bisa membayar SPP! Sekolah-sekolah dasar ambruk, sehingga mereka tidak bisa belajar. Anak-anak dan calon mahasiswa yang miskin tidak bisa meneruskan pendidikannya. Mereka ini yang menjadi penghuni jalanan dan pelaku kriminalitas.
Begitulah Gie tergambar lewat teks-teks tulisannya. Sosoknya yang tegas, berani dan idealis memang bisa membuat orang berpikir ia tidak berpijak pada kenyataan. Ini pernah ia alami ketika mahasiswa Jepang mempertanyakan sikap Gie tentang social responsibility. “What do you mean by social responsibility?” kata mahasiswa itu. Dari sikap ini Gie menyesalkan mahasiswa-mahasiswa Asia yang kalah idealis dibandingkan dengan mahasiswa Australia dan Selandia baru. Dosen-dosen yang bodoh Pesan yang menarik bagi kita, khususnya mahasiswa adalah, dosen itu bukanlah dewa. Karena dosen manusia, maka dosen bisa bersikap salah yang bisa merugikan mahasiswa. Gie mengkritik dosen-dosen Universitas Indonesia (UI) yang sering bolos mengajar, menyuruh mahasiswa menerjemahkan buku, karena ia tidak memahami bahasa Inggris. Pernah, Gie bersama kawan-kawannya di dewan mahasiswa UI menempelkan poster-poster besar berisi daftar dosen-dosen yang tidak bekerja dengan baik, termasuk yang jarang mengajar itu. Perlunya bersikap adil Gie memiliki sikap yang adil, tidak memihak dan berusaha obyektif. Walaupun Gie sangat membenci faham komunisme dan konsep NASAKOM, tetapi ia sangat menentang usaha penyiksaan dan pembunuhan terhadap pendukung komunisme yang pernah terjadi di Bali pada 1965.
Gie memang humanis yang menolak praktik ketidakadilan. Saya tegaskan pula, bahwa saya mendukung pemerintah sekarang, karena Presiden Soeharto berorientasi pada pembangunan. Tetapi saya juga tidak segan-segan mengkritik pemerintah, karena hanya dengan kritik yang jujur, obyektifitas dapat dibangunkan. (Gie, hal. 230)
Tulis Gie di bagian lain, “Saya sama sekali bukan berarti membela daripada Gestapu/PKI atau pun dapat membenarkan cara-cara mereka menghabisi lawan-lawannya. Dari sudut moral perlakuan mereka yang demikian kejam dan biadab terhadap lawan-lawannya haruslah kita lawan dan kita kutuk, tetapi tidak sekaku dan sebiadab mereka pula.” (Gie, hal 191) Membunuh orang tanpa proses adalah, salah, karena itu harus digugat. Mereka yang mau konsekuen terhadap sistem nilai absolut ini akan menggugat pemerintah karena menembah mati Aidit, Njoto dan lain-lain tanpa proses pengadilan. (Gie, hal. 64)
Wacana-wacana yang ditawarkan Gie selalu kontekstual, tidak hanya bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga masyarakat dunia. Sebab ketidakadilan dan kemunafikan selalu mewarnai dalam tataran politik dan sosialnya. Bagi Indonesia, langkah penting dan utama adalah semangat dalam memberantas korupsi demi perbaikan pendidikan anak-anak nusantara. Terima kasih, Gie!