Kebenaran yang Labil

April 26, 2007 at 2:33 pm (Kontemplasi)

Ketika kita masih di dunia tidak ada kebenaran absolut yang ada adalah kebenaran relatif yang sangat labil bisa berubah secepat yang tidak kita perkirakan. Dan itu tercermin jelas dalam agama! Tidak ada kebenaran absolut dalam agama.

Agama sejatinya adalah produk sejarah dan budaya yang ditafsirkan dan ditulis berulang-ulang oleh ribuan orang selama ribuan tahun. Kemunculan dan perkembangannya selalu berproses oleh faktor sosial, politik dan budaya. Artinya di sana ada proses enkripsi lewat encoding teks yang mana bisa berbeda dengan teks aslinya atas kepentingan dan motif tertentu. Konkretnya teks kitab suci kita lihat berwujud teks-teks sastra yang bisa ditafsirkan ke dalam berjuta-juta teks kembali, termasuk tentunya gambar-gambar dan imaji manusia.

Dan ketika ia masuk dalam media lain gambar-gambar dan teks tersebut dinterpretasikan kembali oleh orang lain. Demikian seterusnya hingga makna aslinya hilang, sebab tidak semua orang bersusah payah mencari makna yang asli dari sebuah pesan karena beberapa faktor tertentu. Atau dengan kata lain, interpretasi atas pesan yang terinterpretasi dalam media yang masif dan luas, sama halnya dengan proses simulasi yang penuh hiperrealitas. Selalu saja ada yang riil daripada yang riil. Ada yang lebih benar daripada yang apa yang kita anggap dan kita bayangkan. Maka agama yang kita anggap benar saat ini akan menjadi tidak benar karena ada pembuktikan tertentu yang sangat masuk akal. Konsepsi tentang surga dan neraka akan berubah karena ada riset dahsyat tentang itu. Orang-orang yang atheis akan tercengang karena pertanyaan yang selama ini tersangkut di hatinya tentang keberadaan Tuhan akan terjawab, hanya dari jawaban mengapa inti atom bisa eksis berikut proton, elektron dan neutronnya. Agama saat ini seolah-olah sebagai representasi mutlak keberadaan Tuhan.

Saya yakin Tuhan tidak memberikan bulat-bulat kitab suci yang dihasilkan lewat interpretasi tersebut agar dipatuhi. Asal tahu saja banyak hal yang bertentangan dalam kitab suci yang siap membuat sang pembaca ragu. Agama dan kitab suci adalah hasil konstruksi sosial manusia tergantung masa dan wilayah ia dibentuk.

Tidak semua budaya Yahudi yang banyak dipengaruhi Romawi ketika Yesus hidup sebagai dasar perjanjian baru, yang diletakkan dan dipraktikkan dalam nasrani saat ini, tidak juga saudaraku muslim. Tapi di atas semua itu saya jelas menentang konflik antar agama. Tidak sedikit banyak yang menilai agamanya yang paling benar dan siap menantang agama lain yang dianggapnya kafir, ketika ia sendiri tidak paham benar esensi agama yang sesungguhnya menentang permusuhan antarmanusia.

Maha Besar Tuhan karena memberikan kemampuan berkomentar seperti ini. Puji Tuhan di Surga karena telah menciptakan manusia yang berkemampuan menciptakan internet dan blog ini tentunya, karena kami terus berinterpretasi dalam kebenaran relatif dan labil ini. Maka, jika Tuhan ingin saya mematuhi isi Alkitab secara utuh dan konsekuen, mengapa ada ia turunkan Yesus dari Surga untuk mengintepretasi kembali ajaran-ajaran orang Yahudi seperti yang dijabarkan dalam Perjanjian Lama, misalnya menolong orang dan bekerja pada hari Sabat. Bukankah Yesus melakukan penafsiran?

Bagi saya Yesus jelas seorang pemberontak pada masanya. Bayangkan kerajaan Romawi yang adikuasa pada waktu itu menjajah negara kecil Yahudi. Pada masa itu Yesus dan kaumnya adalah kaum minoritas yang terjajah. Kalau Anda bagian dari masa itu, apa yang Anda lakukan. Salah satunya tentunya memberontak, sama yang dilakukan Yesus. Tidak ada kebenara absolut yang ada adalah kebenaran relatif yang selalu labil.

Post a Comment