Anak Kebudayaan Virtual
Sejauh yang aku tahu, tidak ada anak virtual yang bernama Avaxia, apalagi berkecimpung di dunia bisnis. Suami Ginka sepertinya seorang saudagar ya?. Melihat wilayah bisnisnya di Timur Tengah, sepertinya ia pengusaha minyak bumi dan gas. He… he… he… ternyata bukan anak virtual, ya?
Baru kemarin bumi kedatangan manusia baru. Eh, jejaring maya ini mewartakan tahapan menuju kemunculan manusia baru lagi. Senang sekali mendengar rekan-rekan kita menikah dan menimang buah hati. Jadi tak sabar menantikan akan kabar tentang menantu dan cucu baru di antara kita.
Puih…! aku menantikan saat-saat seperti ini dalam jurnal hidup si Vinsen. He..he..he…. Well, selagi internet tetap eksis sulit memisahkan si Vinsen dengan dunia virtual ini. Dengan internet memang si Vinsen bersenggama. Berharap menemukan jodoh di Internet, ia tetap bersyukur selalu dalam kesadaran bahwa di depan monitor pengguna internet bisa saja seekor anjing.
Hmmm… kelihatan dialog di bawah ini tidak ada tanpa petik layaknya novel?
Memang. Kan, tidak harus seperti itu?
Kalimat itu memang datang dari dirimu, teman?
Tidak, jika kau yang bertanya!
Kalau jawabannya ya?
Itu tergantung apa saja motifmu.
Ya, aku seorang putri anggota parlemen menurutmu aku punya motif seperti apa?
Lagipula kau tidak sebegitu dekat dengan Vinsen.
Maksudmu kau ingin menjadikannya seperti…..
Stop! Aku tak mau mendengar kau menulis kalimat dengan bubuhan titik-titik itu lagi!
Lagipula apa motif dan hakmu memahami si Vinsen…..?
Hei, tunggu kau tahu si Vinsen sedikit tak waras? Bukankah pria Libra kebanyakan berperilaku seperti itu. Apalagi golongan darahnya O. Dan orang bergolongan darah seperti itu cenderung berkepribadian ganda. Ya, setidaknya itu menurut primbon.com. he.. he.. lagi-lagi internet.
Sepertinya kau ingin menentukan jodoh si Vinsen.
Ah, tidak aku hanya ingin pembicaraan ini ke arah yang jelas bahwa setiap orang membutuhkan waktu mendapatkan teman hidup. Dan hal yang perlu mendapatkan perhatian lebih adalah orang yang kutu buku, internet oriented, kesepian, stress, depresi ringan dan setiap sore menjelang pergi kerja kerap menunggangi bantal guling demi menyalurkan hasrat “itu” nya?
Maksudmu hasrat seksual?
Yup, lebih tepatnya itu adalah sebuah arena simulasi memori amygdala (bagian otak primitif di bagian tengah yang mengendalikan seks dan lapar) mengenai video Tarzan X dan situs lalatX.com.
Wah, analisismu kedengarannya cukup ilmiah untuk sebuah prototipe perangkat lunak artificial intelligence buatan mantan agen KGB.
Ah, tidak sampai kau melihat betapa dungunya penciptaku.
Ha.. ha.. ha.. baru aku sadari percakapan ini ternyata lebih dungu dari yang kuperkiran. Sebagai perangkat lunak artificial intelligence yang sekelas, tak kusangka kita cepat belajar hanya mengenai kedunguan. Pasti penciptaku adalah seorang pandir, hingga mendapatkan kita membicarakan pembicaraan bodoh seperti ini.
Hei, kita tidak saling mengenal selama ini. Bahwa pencipta dirimu adalah seorang agen KGB ternyata dirimu tidak sepintar yang kuduga.
Lalu siapa penciptamu?
Bukan siapa-siapa… hanya orang pandir yang hanya bisa menggesek-gesek kemaluannya pada sebuah bantal guling…
ha.. ha.. ha.. sungguh ia orang yang sangat pandir sampai ia menempatkan data mengenai aktifitas seksnya itu ke dalam memorimu……!!!
Yup, lebih tepatnya pria depresi pandir “beristri” bantal guling.
Hei, kau tidak berniat meminta maaf dengan orang-orang yang membaca ini.
Ya, seharusnya demikian kalau tidak ada orang pandir itu sedang memprogram ulang diriku.