Menantikan Kejayaan Internet yang Sesungguhnya
Bagi beberapa pihak, keputusan raja media pemilik News Corporation, Rupert Murdoch tahun lalu membeli Myspace sangatlah mencengangkan. Pasalnya, pada era booming internet di tahun 1994 hingga awal 2000, ia pernah bangkrut milyaran dolar gara-gara berbisnis di media digital seperti ini. Insting Murdoch waktu itu meleset. Belum sempat balik modal, bisnis ini ambruk secara global, hanya karena masyarakat dunia belum bisa menerima media baru ini. Hanya beberapa yang sanggup bertahan, seperti Yahoo!, Google, Amazon, E-bay dalam lain sebagainya. Di tanah air kita mengenal DetikCom dan Kompas Cyber Media (KCM).
Kapitalisme, Ems!
Ems, I used to be like you, dear….
Gaya berpikir Ems bisa saya pahami, karena saya juga pernah seperti itu. Ini mencerminkan buku yang Ems baca agak kekiri-kirian. Saya dulu suka baca buku-buku seperti itu, bahkan sampai sekarang saya masih memburu buku-buku seperti itu. Masalahnya jangan sampai terjebak ideologi yang tersurat dalam buku-buku itu. Kapitalisme tidak seburuk yang Ems kira,
Objektifisme dan Subjektifisme Lacerta
Kalau Lacerta paham tentang konsep objektifisme, maka Lacerta tidak akan menggunakan istilah tersebut untuk membuat penilaian terhadap sesuatu atau ketika menafsirkan sebuah fenomena. Tidak ada yang objektif di dunia ini, karena manusia terikat dengan kepentingan pribadi, kelompok dan negara. Konsep objektifisme adalah imparsialitas dan seimbang. Dan jurnalisme sudah membuang jauh-jauh konsep ini. Jadi, tetap saja ada keberpihakan seseorang terhadap seseorang atau kelompok.
Anak Kebudayaan Virtual
Sejauh yang aku tahu, tidak ada anak virtual yang bernama Avaxia, apalagi berkecimpung di dunia bisnis. Suami Ginka sepertinya seorang saudagar ya?. Melihat wilayah bisnisnya di Timur Tengah, sepertinya ia pengusaha minyak bumi dan gas. He… he… he… ternyata bukan anak virtual, ya?
Membaca Teks Gie
Man Best Known by His Writing. Saya tidak ingat di buku apa saya pernah membaca kalimat ini. Saya tidak tahu juga siapa yang menulisnya. Namun, maknanya selalu bergejolak di pikiran saya. Ia sangat kontekstual! Dan teks-teks tulisan Soe Hok Gie (selanjutnya saya sebut Gie saja) membuktikan itu.
Subjektifitas Penafsiran atas Vinsensius
Sejak duduk di sekolah dasar saya memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap teknologi. Ya, walaupun belum bersentuhan dengan yang namanya komputer, setidaknya saya bisa paham bahwa ternyata sendok nasi berbahan aluminium bisa menggantikan fungsi antena untuk TV hitam putih milik keluarga kami dulu. Masih di masa duduk di bangku sekolah dasar, adalah kali pertama melihat yang namanya komputer.
Realitas Lembu Barus
Sampai sekarang rasa heran saya terhadap keunikan nama orang Karo tak pernah sirna. Percaya atau tidak saya pernah mendengar nama orang Karo Lembu Barus. Saya mengalami ini ketika mengikuti pelatihan kepemimpinan pramuka di Lemcadika, Medan 1999 silam. Di hari pertama sebelum memasuki kelas, anggota dari masing-masing sangga dari setiap gudep dibariskan di lapangan, instruktur utama pun bergerak memeriksa kehadiran peserta pelatihan. “Lembu Barus!” kata sang instruktur. Kontan saja para peserta yang jumlahnya sekitar 100 orang lebih itu memalingkan ke segala “matra angin” mencari tahu orang yang dimaksud seraya tertawa terbahak-bahak. Saya yakin semua yang hadir di sana sampai detik ini tidak pernah lupa, bagaimana sensasi tawa yang luar biasa itu. Seolah-olah kami mendapatkan kualitas tawa yang tidak pernah dirasakan sebelumnya.
Kebenaran yang Labil
Ketika kita masih di dunia tidak ada kebenaran absolut yang ada adalah kebenaran relatif yang sangat labil bisa berubah secepat yang tidak kita perkirakan. Dan itu tercermin jelas dalam agama! Tidak ada kebenaran absolut dalam agama.